Awesome Image

Dekopinwil

Gaya Traveling Slow Travel dan JOMO Bakal Tren pada 2020, Apakah Itu ?

Pada tahun 2019, solo traveling menjadi gaya bepergian yang paling populer. Menurut data yang dikutip dari hasil survei situs perjalanan Skyscanner, sebanyak 22 persen responden sudah pernah melakukan solo traveling pada tahun 2019.

Dengan solo traveling, seorang pelancong bisa dengan bebas menentukan tempat wisata yang ingin dikunjungi dan makanan apa saja yang ingin dicoba. Berbeda dengan jika bepergian bersama rombongan, yang harus penuh dengan kompromi. Namun, tren perjalanan tersebut kemungkinan akan berubah. Sebab, ada tren perjalanan baru bernama Slow Travel. Menurut survei yang sama, 18 persen pelancong yang menjadi responden telah melakukannya pada tahun 2019. Skyscanner memprediksi pada tahun 2020, penggemar Slow Travel akan naik menjadi 24 persen. Ketika pulang dari suatu tempat sehabis liburan, terkadang seseorang tidak merasa senang melainkan merasa lelah. Berdasarkan surveni, beberapa pelancong asal Korea Selatan dan Jepang merasa bahwa mereka harus memiliki waktu ekstra sebelum melanjutkan eksplorasi. Terinspirasi dari Slow Food Movement, gaya perjalanan Slow Travel lebih terfokus pada koneksi yang dibangun pelancong dengan destinasi wisata tersebut. Selain itu, pelancong juga diharapkan dapat terhubung dengan teman seperjalanan melalui cara hidup dan bepergian yang lebih santai. Entah perjalanan itu memakan waktu selama seminggu atau hingga uang habis, Slow Travel memprioritaskan perjalanan santai yang panjang dan juga aktivitas yang tak dijadwalkan sebelumnya. Dari survei tersebut, pelancong asal Taiwan dan Hong Kong masing-masing menempati peringkat pertama dan kedua. Masing-masing menyumbang 23 persen dari kesuluruhan responden yang berminat pada gaya Slow Travel.

Sementara itu, Korea Selatan menduduki peringkat pertama dengan persentase sebanyak 31 persen yang berminat untuk mencoba Slow Travel pada tahun 2020. JOMO Tren perjalanan lain yang tidak kalah menarik adalah JOMO. JOMO, singkatan dari Joy of Missing Out, menarik peminat sebanyak 10 persen dalam survei tersebut. Tren ini adalah pelancong yang bertujuan untuk mengunjungi destinasi wisata dengan sedikit turis, karena mengunjungi destinasi wisata populer dianggap sebagai sesuatu yang sudah biasa. Jadi, bagi seseorang ingin menikmati suatu tempat yang baru dan jauh dari kebisingan para turis, JOMO merupakan pilihan yang tepat. Berbeda dengan FOMO, Fear of Missing Out, JOMO lebih mengutamakan para pelancong untuk menikmati perjalanan mereka. Ketika melakukan JOMO, pelancong tidak mengkhawatirkan soal bagaimana perjalanan tersebut terlihat di media sosial. Inti dari JOMO Traveler adalah menghindari kebisingan dan keramaian, sehingga pelancong JOMO cenderung lebih memilih untuk mengunjungi destinasi wisata yang tidak banyak dikunjungi oleh turis. Bahkan, cenderung akan memilih destinasi wisata yang sepi. Melalui survei yang sama, India dan Australia masing-masing menempati peringkat pertama dan kedua persentase masing-masing sebanyak 12 persen dan 11 persen yang melakukan JOMO pada tahun 2019.

Namun, minat untuk mencoba tren perjalanan JOMO pada tahun 2020 di kedua negara tersebut meningkat. India menjadi 15 persen dan Australia menjadi 15 persen. Meski begitu, peringkat pertama responden yang berminat mencoba tren JOMO pada tahun 2020 diduduki oleh pelancong asal Jepang dengan persentase 18 persen. Dalam melakukan survei tren perjalanan yang populer di kalangan wisatawan global, Skyscanner menggunakan metode pengumpulan data kuantitatif. Mereka melakukan analisis kebiasaan lebih dari 100 juta pengguna Skyscanner setiap bulannya. Survei mengenai tren perjalanan ini dilakukan untuk memahami secara spesifik seperti apa tren perjalanan yang sedang populer di kalangan masyarakat.

Share: